Menyoal "Kualitas" dan "Kesejahteraan": Sebuah Cermin untuk Mulan Jameela
Pernyataan
anggota DPR RI, Mulan Jameela, baru-baru ini memicu gelombang kritik dari
berbagai kalangan, terutama para aktivis dan praktisi pendidikan.
Inti pernyataannya—bahwa guru
harus mengutamakan kualitas ketimbang sekadar menuntut gaji tinggi—dirasa seperti
"garam di atas luka" bagi jutaan guru di Indonesia yang hingga kini
masih berjuang di garis kemiskinan.
Paradoks
Kualitas vs Kesejahteraan
Logika
yang menyatakan bahwa "kualitas harus mendahului kesejahteraan"
adalah logika yang cacat secara fundamental.
Bagaimana mungkin kita
menuntut profesionalisme tingkat tinggi dari seseorang yang setiap hari harus
membagi fokus antara mengajar dan memikirkan cara membayar cicilan atau sekadar
membeli beras?
·
Faktanya: Guru bukan sekadar profesi pengabdian; guru adalah
profesi profesional yang membutuhkan pemeliharaan kompetensi.
·
Realita Lapangan: Masih banyak guru honorer di pelosok
negeri yang digaji di bawah Rp500.000 per bulan. Menuntut kualitas tanpa
memberikan jaminan hidup yang layak adalah bentuk ketidakadilan sistemik.
Guru:
Akar dari Kursi Parlemen
Salah
satu kritik paling pedas datang dari para aktivis yang mengingatkan Mulan
Jameela untuk "bercermin".
Poin ini sangat krusial.
Setiap anggota DPR, termasuk Mulan, bisa duduk di kursi empuk Senayan, membaca
naskah pidato, dan merumuskan kebijakan karena mereka pernah duduk di bangku
sekolah dan dididik oleh seorang guru.
Tanpa
kesabaran seorang guru yang mengajarkan literasi dasar hingga etika, tidak akan
ada politisi, dokter, maupun artis.
Meremehkan tuntutan gaji guru
sama saja dengan melupakan akar yang menghidupi pohon karier mereka sendiri.
Tanggung
Jawab Legislatif: Solusi, Bukan Kritik Kosong
Sebagai
anggota DPR RI, tugas Mulan Jameela sejatinya bukan sekadar melemparkan kritik
kepada subjek pendidikan (guru), melainkan mengevaluasi objek kebijakan
(pemerintah).
1.
Evaluasi Anggaran: Mengapa anggaran pendidikan 20% belum
mampu menyejahterakan guru secara merata?
2.
Sistem Sertifikasi: Mengapa birokrasi pencairan tunjangan
masih berbelit-belit?
3.
Pelatihan Guru: Apa langkah nyata DPR untuk memfasilitasi
peningkatan kualitas guru yang ia tuntut itu?
Kesimpulan
Kualitas
guru memang penting untuk masa depan bangsa, tapi kualitas tidak tumbuh di atas
tanah yang kering.
Ia butuh pupuk berupa kesejahteraan dan apresiasi.
Daripada sibuk meminta guru untuk tidak menuntut
gaji, ada baiknya para wakil rakyat fokus memastikan bahwa profesi guru jadi
profesi yang bermartabat secara finansial, agar orang-orang terbaik di negeri
ini mau jadi pendidik.
Sebelum menunjuk jari ke arah papan tulis, ada baiknya para wakil rakyat melihat ke cermin: sudahkah mereka memperjuangkan orang-orang yang telah membuat mereka mampu berdiri di sana? [kay]

