Dari Sudut Dunia Hitam (III)



Dari Sudut Dunia Hitam (III)

Puisi: Yant Kaiy

 

terbayang pada semua masa silam

ketika hanyut dalam dekapan ibu

ketika terbuai dalam belaian ibu

kasih sayang itu utuh. murni, tidak terkena polusi

tetapi kini keceriaan itu telah berganti neraka menakutkan

semua lelaki yang hadir hanya ingin menikmati

dan menguasai nafsu iblisku

aku menjerit dalam batin. berteriak dalam nurani semerdeka mungkin

meski yang kulakukan itu hanyalah kesia-siaan belaka

 

malam-malam mengerikan senantiasa hadir tanpa bisa kuhindari

air mata seolah kering, tiada persediaan lagi

sebagai bukti penderitaan itu ada, dan

selalu mendera jiwa tak berdaya yang sekian lama terbalut luka

 

sementara diriku terus tersudut

vonis buruk tentang duniaku menyerang bertubi-tubi

aku patut memang disalahkan

aku pantas mendapat hukuman setimpal

aku juga layak memperoleh siksaan mereka

seberat apa pun, akan kuterima semua perlakuan pahit mereka

namun mengapa mereka tak pernah membukakan pintu maaf bagiku?

pintu kasih itu seolah tertutup rapat, erat, dan terikat kuat

 

“Dasar lacur, tidak tahu malu!”

justru begitu kata kata mereka

menusuk perasaan, berujung kekecewaan

kadang mereka melanjutkannya lebih pedih lagi

"Terkutuklah, kau!”

 

aku tak dapat berbuat apa-apa atas kalimat busuk mereka

sedangkan yang tersisa dari tetesen nafsu bejatku hanyalah penyesalan

menyulut harga diri yang kupertaruhkan hidup atau mati

 

bila aku menangis, mereka mengatakan:

" Air mata buaya. Tidak harus dipercaya..."

aku semakin kebal dengan hinaan itu

aku bertahan untuk kesekian kalinya

dari gempa kalbu, memporak - porandakan

konsep masa depan terbentang luas

dalam memperbaiki hidup.

 

Pasongsongan, medio 1995 

LihatTutupKomentar