Puisi : Herry Santoso
NUNUKAN - TAWAO SEBUAH LANDSCAPE RINDU TERPIDANA
Daulat Encik daulat
Amoi di seberang
memandangku nanar di sini. Matanya yang sayu terpidana jiwa serumpun yg ingin berbicara tentang rembulan
jatuh di landscape Nunukan-Tawao dini hari. Tatkala genderang perbatasan
bertalu saling teriakkan slogan Melayu - Indonesiaku : "Darah mengaliri
denyut nadi menuju dermaga cinta si jantung hati...".
Daulat Encik daulat, biarlah amoi di seberang itu menatapku
dengan rindu meski landscape Nunukan - Tawao memidana
Di sana Kinabalu menjulang biru saksi bisu cinta dua bangsa yg
pernah tertoreh belati lepasnya Sipadan
dan Ligitan, atau juga aneksasi batik dan reyok Ponorogo tempo hari. Jangan jadikan itu semua apriori ujaran
benci. Sandakan, Tarakan, Tawao dan Nunukan adalah rumpun yang tetap menghijau.
Ada candikala semburat jingga di sana menebar pernik bersatu di pucuk cemara sepanjang jalan Tun
Abdurahman Kuala Lumpur, atau Soekarno-Hatta tumpahkan heroik semangat Asean
Raya. Tak layak lagi kita saling menggores
ujaran benci "Ganyang Malaysia"
seperti tempo dulu. Juga nyaringnya suaramu "Indonesia adalah
sebuah hama kebangsaan" atau ujaran-ujaran lain yang sakitnya itu di sini
tak terperikan lagi !
Daulat Encik daulat !
Mari berbagi di zaman now yang harus hendak tereksekusi. Ini
zaman Petronas atau Maykarta Raya juga lintas paralel antara Kapuas Hulu hingga
Kaltara!
(Tak guna Encik tak guna kita tabuh genderang perang atau
sengketa perbatasan karena kita
sama-sama berpeci dan bersarung. Aku juga terjerembab jatuh hati pada amoi
berbaju kurung di seberang yang terpenjara landscape rindu Nunukan - Tawao )
Daulat Encik daulat !
Bulan paruh kini benar-benar luruh dari langit Asean jatuh di pangkuan
hamba. Ayo kita dekap erat-erat rumpun yang bergoyang tatkala dendangkan
Semalam di Malaysia atau busungkan dada saat Indonesia Raya dan Negaraku
berkumandang barengi gemerlapnya lintas-batas satukan kita !
Daulat Encik, daulat. Salamku buat yang mulia Paduka Encik
Mahatir yang sungguhpun kerut-merut melipat usia tak lengkang bangunkan
Malaysia tak beda di sini Tuan Jokowi memeras keringat bekerja meretas
mimpi-mimpi agar bumi khatulistiwa makmur sejahtera
Merdeka, Daulat Encik,
Merdeka !
Nunukan-Tawao sebuah landscape rindu yang tak ingin terpenjara
lagi. Aku ingin memagut ranumnya senyum amoi sungguhpun aku bukan satria
berkuda tetapi darah asmara yang mengalir ini adalah darah Asean Raya
O....
( Blitar - Indonesia, 18
November 2019 )
Parade Puisi Asean, merupakan kerjasama budaya antarnegara Asia
Tenggara
