Sejarah Pasongsongan: Lebih Dekat dengan Syekh Ali Akbar
| Foto: Surat tanah pemberian Raja Bindara Saod |
SUMENEP, apoymadura.com - Sejarah Pasongsongan erat kaitannya dengan Syekh Ali
Akbar. Antara beliau dan Pasongsongan ibarat satu mata uang logam; dua sisinya
berbeda tetapi tetap satu. Karena Syekh Ali Akbar nama Pasongsongan ada.
Bermula dari seringnya berkunjung Raja Bindara Saod
ke daerah tempat tinggal Syekh Ali Akbar, maka tercetuslah nama daerah itu
menjadi Pasongsongan.
Bindara Saod adalah seorang raja adil bijaksana yang
merupakan keponakan Syekh Ali Akbar. Bindara Saod memerintah Sumenep pada tahun
1750 sampai 1762 dan termasuk raja yang ke-29.
Kedekatan Syekh Ali
Akbar dengan Bindara Saod dilatarbelakangi oleh kesetiaan Syekh Ali Akbar
sebagai rakyat kepada rajanya (pemimpin). Ditambah lagi dengan adanya hubungan
darah pada keduannya. Filosofi hidup orang Sumenep: Bepa’-bebu’-guru-ratoh
sudah tertanam dan mengakar kuat di dadanya sejak usia dini. Maksud dari
filosofi ini, untuk menjadi manusia berbudi luhur, ia harus taat kepada
bepa’ (bapak) bepu’ (ibu) guru (guru) ratoh (pemimpin).
Apalagi Syekh Ali Akbar sering mendapat kepercayaan dari Bindara Saod untuk
membantu mengusir penjajah Belanda dari bumi Madura, khususnya Sumenep.
Syekh Ali Akbar merupakan sosok orang yang ahli
ibadah, ia tidak pernah mengharapkan kedudukan apapun dari buah perjuagannya.
Beliau juga tidak pernah punya niat untuk memperoleh pangkat atau gelar. Ia juga
tidak punya niatan untuk memperoleh sanjungan berlebihan, karena apa yang dilakukan hanya semata-mata mengharapkan
ridha Allah SWT. Syekh Ali Akbar adalah orang yang lurus, istiqomah, dan
amanah.
Maka tak berlebihan kiranya apabila Bindara saod
seringkali mengunjungi Syekh Ali Akbar di kediamannya. Itu dilakukan untuk
meminta petunjuk dan petuah kepada beliau agar roda kepemimpinannya berjalan
sesuai dengan norma-norma agama yang ada.
“Lantaran Raja Bindara Saod beberapakali menjumpai
Syekh Ali Akbar, maka Sang Raja menamakan tempat tinggal Syekh Ali Akbar dengan
nama Pasongsongan,” terang KH. Ismail Tembang Pamungkas ketika apoymadura sowan ke kediamannya di Desa
Paberasan-Sumenep.
| Foto: Senjata Syekh Ali Akbar yang dipakai perang di Aceh |
Nama Pasongsongan berasal dari kata dasar ‘songsong’
yang bermakna ‘sambut’. “Karena seringkali Raja Bindara Saod datang
dan disambut dengan sangat luar biasa apabila berkunjung pada Syekh Ali Akbar,
maka daerah tempat tinggal Sang Waliyullah itu lantas dinamakan Pasongsongan,” beber KH. Ismail Tembang Pamungkas yang
juga merupakan seorang da’i dan ahli sejarah babad Sumenep.
Ketika Kerajaan Aceh meminta bantuan pada Raja
Bindara Saod untuk mengusir penjajah Belanda, Raja Sumenep itu mempercayakan
kepada Syekh Ali Akbar. Tapi beliau menugaskan putri tercintanya, yaitu Nyai
Agung Madiya untuk berangkat ke Aceh.
Berbekal restu dan doa mustajab Syekh Ali Akbar,
perang di Aceh itu dimenangkankannya. Sebagai imbalannya, Syekh Ali Akbar
mendapatkan hadiah tanah luas di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan
Kabupaten Sumenep. (Yant Kaiy)
