Pergeseran Budaya “Berkat” di Pasongsongan-Sumenep

 


Catatan: Yant Kaiy

Dalam beberapa kamus Bahasa Indonesia, kata “berkat” mengandung makna: Makanan dan lain sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri (selamatan).

Jadi kata “berkat” yaitu sebuah bingkisan diberikan kepada para undangan yang hadir dalam acara tertentu. Biasanya acara tersebut digelar di sebuah rumah atau tempat umum lainnya. Bingkisan dari pemilik hajat itu pada lazimnya berupa nasi lengkap bersama lauk-pauknya.

Tahun ini acara Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 Hijriah di Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, umumnya tidak lagi memberikan berkat nasi kepada para hadirin, melainkan berupa mie instan atau biskuit.

Kesadaran masyarakat ini dilandasi berlebihannya nasi dan lauk-pauk yang akhirnya basi pada keesokan harinya. Maka masyarakat tanpa dikomando mempersembahkan berkat bukan dalam bentuk masakan. Tapi berupa bahan makanan berupa minyak goreng dalam kemasan, beras, gula, kecap, bahkan ada yang memberi uang dan rokok.

Pergeseran budaya berkat ini mendapat tanggapan pro-kontra dari masyarakat. Tapi yang jelas masyarakat cenderung mengamini perubahan budaya ini. Letak persoalannya karena tuan rumah (kaum ibu) tidak bekerja full time di dapur.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Postingan populer dari blog ini

Semarak Malam Lepas Pisah Kelas Akhir SDN Pasongsongan 4, Kepsek Titipkan 4 Pesan Penting untuk Lulusan

Momentum Penuh Haru dan Motivasi, TK Negeri dan SDN Guluk-Guluk 1 Gelar Lepas Pisah serta Kenaikan Kelas

Panen Apresiasi, Kelulusan Siswa Kelas VI SDN Panaongan 3 Banjir Ucapan Selamat dari Tokoh Penting