Postingan

Keikhlasan Guru PPPK Paruh Waktu di Sumenep dalam Ketidakpastian

Gambar
​Buka puasa hari ini tetap terasa nikmat bagi para guru berstatus PPPK Paruh Waktu. Meskipun demikian, realita pahit masih membayangi kesejahteraan mereka di Kabupaten Sumenep.  Hak atas gaji yang jadi tumpuan hidup hingga saat ini belum kunjung cair. Kondisi ini memaksa para pendidik untuk merayakan kemenangan ibadah dalam keterbatasan ekonomi. ​Luka batin menganga selama bertahun-tahun kini hanya tersiram deru doa. Para guru tersebut terus bertahan di tengah himpitan regulasi yang sering kali tidak berpihak pada kepastian nasib.  Dedikasi mereka terhadap dunia pendidikan tetap teguh meski dihantam ketidakjelasan administratif. Madah doa dipanjatkan jadi satu-satunya kekuatan untuk membasuh kekecewaan atas janji-janji yang belum tertunaikan. ​Ketidakpastian regulasi ini seharusnya jadi perhatian serius bagi pemangku kebijakan daerah.  Para guru PPPK Paruh Waktu tidak semestinya dibiarkan berjuang sendirian tanpa jaminan finansial. Penundaan hak hanya akan memperlebar cel...

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

Gambar
​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak tersentuh kebijakan pemerintah.  Kita patut bersyukur atas janji kesejahteraan kendati selalu "jauh panggang dari api". Ketidakpedulian penguasa justru jadi bumbu penyedap paling otentik di meja makan rakyat jelata. ​Dan kekecewaan menggunung mendadak luruh bersama segelas es teh manis.  Siapa butuh anggaran pendidikan dan kesehatan yang mumpuni jika kita sudah punya label "sejahtera" di atas kertas?  Kita diajak merayakan pemangkasan hak-hak dasar demi satu piring harapan.  Bukankah sangat puitis melihat masa depan anak bangsa dikorbankan demi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang penuh kemegahan? ​Mari kita kunyah makanan ini dengan khidmat tanpa perlu banyak tanya.  Nikmatilah kemewahan sesaat ini selagi angka kemiskinan hanya jadi hiasan infografis di kantor kementerian.  Pemerintah sedang bekerja keras mencerdaskan b...

Drama Lapangan Hijau dan Meja Makan

Gambar
​Pertandingan Arema FC kontra Madura United di Pamekasan semalam adalah mahakarya hiburan.  Skor imbang 2-2 jadi bukti betapa dermawannya kedua tim dalam membagi poin di bulan suci ini.  Lapangan becek dan duel fisik terlihat begitu estetik, persis seperti indahnya janji-janji manis yang melayang di udara tiap lima tahun.  Stadion bergemuruh, napas pemain tersengal, tapi semua tetap tersenyum demi menjaga martabat papan tengah klasemen.  ​Keseruan di rumput hijau rupanya punya pesaing berat di panggung negara.  Di luar stadion, rakyat sedang asyik bermain "laga persahabatan" melawan tarif pajak yang kian lincah bergerak.  Sambil menahan lapar puasa, kita semua menonton pertunjukan taktis dari sang nakhoda, Prabowo.  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) meluncur bak tendangan salto yang ambisius menuju gawang kejayaan politik.  Sungguh sebuah skema permainan jenius: perut rakyat diincar, sementara dompet negara dikuras lewat pengabdian pajak yang tia...

Impor Truk Agrinas dari India, Industri Lokal Diminta Ikhlas

Gambar
Negeri agraris itu bernama Indonesia. Masyarakat dunia tahu. Tapi logistiknya memilih India.  Agrinas mengimpor 105 ribu pikap dan truk. Katanya demi efisiensi. Industri dalam negeri pun diminta efisien dengan cara menonton. Menyaksikan dengan hati pilu. Pabrik lokal masih berdiri. Terus berproduksi. Pekerja masih menunggu pesanan. Tapi negara sedang jatuh cinta pada yang jauh.  Produk dalam negeri dianggap dewasa. Sudah kuat hidup tanpa dibeli pemerintah. Soal uang tip tentu cuma prasangka. Pemerintah belum pasti tulus. Segalanya pakai ilmu matematika. Jurus pedagang dusta. Membeli dari luar demi cinta globalisasi? Itu bahasa klise. Bahasa iming-iming. Urusan nasional belakangan saja.  Ssst… masihkah pemerintah mau berkilah, atau sekalian tersenyum? Omong kosong kalau bukan cuan. [kay]

Olimpiade Musim Dingin 2026 Ramai di Dunia, Indonesia Sibuk Bahas MBG

Gambar
Berita dari utara berlari di atas salju. Ski gaya bebas melompat, berputar, lalu tersenyum pada kamera dunia. Sungguh menarik. Olimpiade Musim Dingin 2026 memanggil perhatian. Milan dan Cortina saling berpegangan tangan. Arena berbisik tentang keberanian dan presisi. Sorak sorai itu menyeberang benua. Televisi menyalakan mata. Media mengedipkan headline. Semua fokus Dunia berhenti sejenak. Menatap atlet yang menantang dingin. Menggapai prestasi dan gengsi. Waktu pun ikut melambat. Tapi, Indonesia memilih cerita lain. Kisah ego penguasa. Sok suci.  Ketidakpastian duduk di ruang tamu. MBG berdiri di meja makan. Ia mengetuk piring dan meminta dibicarakan. Salju jauh. Perut dekat. Dan negeri ini mendengar yang paling keras. [kay]

Jam Imsak Berubah, Janji Berkuasa Tetap: Setitik Harapan di Awal Rezim Prabowo

Gambar
Jam imsak hari ini tidak sama dengan kemarin. Katanya pertanda waktu bergerak.  Perut diminta sabar. Kepala diminta optimis. Padahal jarum jam cuma pindah. Hidup tetap segini-gini. Tak mau hirah. Jam imsak hari ini mengingatkan harapan. Dulu. Saat awal rezim Prabowo berkuasa. Janji berbaris rapi. Spanduk tebal. Pidato lantang.  Rakyat diminta percaya. Seperti diminta menahan lapar lebih lama. Jam imsak hari ini juga jadi pengingat. Program kesejahteraan kandas. Tinggal slogan. Tinggal gema. Selebihnya tambah kacau. Rakyat tetap bangun pagi. Bekerja keras. Menunggu azan perubahan. Yang entah dari masjid mana. Semua tak pasti.  [kay]

Suara Mahasiswa, Teror Kritik Prabowo, dan Tragedi Anak NTT yang Terlupa

Gambar
Dalam podcast Forum Keadilan TV, suara mahasiswa kembali terdengar. Bukan lewat toa demo. Tapi lewat YouTube.  Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, bicara soal kebijakan Presiden Prabowo. Lalu katanya diteror. Negara pun sigap. Sigap membuat gaduh. Bukan sigap melindungi warganya. Tiyo membongkar cerita pahit dari NTT. Anak usia 10 tahun. Mengakhiri hidup. Bukan karena cinta. Bukan karena game. Tapi karena alat tulis Rp10 ribu.  Angka yang terlalu kecil untuk APBN. Terlalu besar untuk nurani negara. Kita punya tank. Kita punya seragam. Tapi tak punya pensil untuk anak miskin. Ironisnya, yang ribut justru kritiknya. Bukan tragedinya. Mahasiswa diteror. Pejabat santai. Negara tersinggung. Rakyat disuruh mengerti.  Mungkin memang begitu konsep keadilan versi baru. Nyawa murah. Kritik mahal. Dan alat tulis? Tetap jadi barang mewah bagi mereka yang lahir di pinggir peta. [kay]