Postingan

CERPEN: Berkubang di Lumpur Kemarau

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur adalah seorang suami yang penuh tanggung jawab.  Sejak awal menikah, ia berjanji pada dirinya, bahwa nafkah keluarganya harus terpenuhi dari hasil keringatnya.  Setiap bulan, begitu gaji ASN-nya cair, Debur menyerahkan semuanya kepada istrinya, Tona.  Hanya selembar uang bensin yang ia sisakan di dompet, sekadar untuk ongkosnya berangkat dan pulang kerja. Tona sering terharu melihat kesungguhan suaminya.  Tapi belakangan ini, kegelisahan tak bisa ia sembunyikan.  Penyebabnya; anak sulung mereka diterima di perguruan tinggi, anak kedua bersiap masuk SMA, dan anak ketiga sudah waktunya masuk SMP.  Biaya yang menunggu terasa bagai gunung yang menjulang. Malam itu, di ruang tamu sederhana, Tona menunduk sambil menahan air mata.  Debur duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya dengan hangat. “Jangan khawatir, Ton,” ucap Debur pelan. “Selama aku masih bisa bekerja, Insya Allah anak-anak akan sekolah. Kita jalani pelan-pelan,...

SMA Annidhamiyah Kelas X Raih Juara 3 Lomba Menghias Kelas Semarak HUT RI ke-80

Gambar
Paling kiri: Fatillah Alfi Maghfirah. [Foto: sh] PAMEKASAN – Dalam rangka memeriahkan Semarak Lomba Dirgahayu Republik Indonesia ke-80, Lembaga Pendidikan Islam Annidhamiyah menggelar berbagai lomba, salah satunya lomba menghias kelas. Ahad (17/8/2025).  Kelas X SMA Annidhamiyah berhasil meraih juara 3 dalam ajang tersebut.  Ketua kelas X, Fatillah Alfi Maghfirah, menyampaikan rasa syukurnya meski hanya membawa pulang juara 3.  “Kami merasa puas walau meraih juara 3. Kerjasama tim merupakan pengalaman yang sangat berharga dan menjadi bahan evaluasi yang mahal harganya,” ungkap Fatillah. Sebagai informasi, Lembaga Pendidikan Islam Annidhamiyah berada di Dusun Jeppon, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan.  Lembaga ini menaungi jenjang pendidikan mulai dari RA, MI, SMP, hingga SMA, serta merupakan bagian dari Pondok Pesantren Annidhamiyah. [sh]

Lomba Penjelajahan Pramuka Meriahkan HUT RI ke-80 di Pasongsongan

Gambar
Panitia pelaksana lomba Pramuka. [Foto: sh] SUMENEP – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, panitia pelaksana lomba Kemerdekaan RI Kecamatan Pasongsongan menggelar kegiatan lomba penjelajahan Pramuka. Kamis (14/8/2025).  Kegiatan yang berpusat di SMPN 1 Pasongsongan itu diikuti dengan penuh antusias oleh peserta dari kalangan pelajar tingkat SD/MI.  Kendati cuaca cukup panas, semangat peserta tidak surut sedikit pun. Salah satu peserta penjelajahan dari SDN Panaongan 3 Pasongsongan. [Foto: sh] Agus Sugianto, selaku Sekretaris Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Pasongsongan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar perlombaan, tapi juga jadi wadah bagi generasi muda untuk produktif dan berkolaborasi. “Lomba penjelajahan Pramuka merupakan salah satu sarana bagi peserta untuk mengasah keterampilan, melatih kerja sama tim, serta meningkatkan jiwa nasionalisme,” ungkapnya. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian acara HUT R...

CERPEN: Hubungan Terlarang

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur berdiri terpaku di depan cermin kamar mandi, wajahnya pucat diterpa cahaya lampu yang redup.  Air masih menetes dari rambutnya, membasahi lantai.  Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Tona—mertuanya—masuk dengan langkah tergesa, wajahnya tampak kalut. “Debur…” suara Tona bergetar, entah karena sedih, entah karena dorongan emosi yang tak mampu ia bendung. Sebelum sempat berkata-kata, Tona memeluknya erat.  Pelukan itu bukan sekadar pelukan ibu mertua pada menantunya; ada rasa sepi, ada luka lama yang meledak.  Debur kaget, tubuhnya kaku. “Ibu… jangan begini,” bisik Debur, tapi suaranya terdengar lemah.  Ia tahu ini salah, tapi ada kerinduan manusiawi yang tiba-tiba membelenggunya. Malam itu, batasan hancur. Mereka larut dalam bisu dan dosa. Tapi, setelah semuanya terjadi, sunyi lebih mencekam daripada apa pun.  Tona terduduk di lantai, menutup wajah dengan kedua tangannya.  “Astaghfirullah… apa yang kita lakukan, Bur?” suaran...

CERPEN: Sungai Air Mata Sepasang Kekasih

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Di masa kuliah, Tona dan Debur tak terpisahkan.  Mereka sering jadi tim dalam berbagai kegiatan kampus, dari lomba debat, organisasi kemahasiswaan, hingga proyek sosial.  Kebersamaan itu membuat Debur yakin, suatu hari ia akan melamar Tona. Akan tetapi, semua berubah tatkala Debur tanpa sengaja mengetahui siapa sebenarnya Tona.  Di balik sikapnya yang sederhana, Tona adalah anak dari keluarga berpengaruh dan berharta, pemilik perusahaan besar. Berhari-hari Debur memikirkan itu.  Ia merasa kecil, minder, dan tak pantas.  Rencana lamaran yang sudah ia susun rapi perlahan ia lipat dan simpan di laci pikirannya.  Sedangkan Tona menunggu kabar yang tak kunjung datang. Debur memilih diam, takut melangkah ke dunia yang terasa terlalu tinggi baginya. Dulu dua sahabat berdiri sejajar, kini jarak tak terlihat mulai membentang, bukan karena Tona berubah, tapi karena Debur mundur. [sh]

CERPEN: Malam Duka dan Tangan Kosong

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur duduk diam di kursi bus, menatap jendela yang dipenuhi bayangan lampu jalan.  Di sampingnya, ibunya menahan air mata.  Sejak kabar ayahnya dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi,  hidup mereka kelam.  Rumah megah, mobil, tabungan di bank, bahkan uang dan perhiasan yang disembunyikan di ruang bawah tanah, semuanya disita negara. Bus malam yang mereka tumpangi memasuki jalan sempit menuju kampung halaman.  Tak ada koper besar, tak ada kotak kardus - hanya tas lusuh berisi pakaian seadanya.  Begitu turun di depan gang kecil, angin malam menyapa dengan dingin yang menusuk tulang. Lampu-lampu rumah tetangga sudah padam.  Suara jangkrik bersahutan di kegelapan.  Debur menggenggam tangan ibunya erat-erat, berjalan pelan di jalan tanah yang kering.  Mereka pulang, tapi bukan sebagai keluarga yang dulu dikenal kaya, melainkan sebagai orang asing yang kembali membawa cerita pahit. Di ujung gang, rumah kayu tua peninggala...

CERPEN: Kemelaratan yang Tak Pernah Lulus Seleksi

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar sebagai guru honorer.  Pagi, siang, bahkan malam ia habiskan untuk mempersiapkan materi, membimbing murid, dan menghadiri rapat sekolah.  Tidak ada gaji yang layak, hanya honor seadanya.  Tapi Debur tetap bertahan, percaya bahwa pengabdian akan dibalas oleh negara. Kenyataan berbicara lain.  Ketika seleksi PPPK datang, Debur kembali gagal.  Bukan sekali, tapi berkali-kali.  Pemerintah, seolah buta, tak melihat keriput di wajahnya yang lahir dari lelah mendidik anak bangsa. Ironisnya, Tona, guru honorer baru empat tahun, lulus seleksi PPPK.  Bagi Debur, itu seperti pil pahit yang harus ditelan sambil menahan air mata.  Bukan karena iri, tapi karena keadilan yang diimpikannya selama ini ternyata hanyalah cerita di atas kertas. Di meja belajarnya yang reyot, Debur menatap tumpukan buku dan catatan muridnya.  “Jika pengabdian tak dihargai, untuk apa kata ‘pahlawan tanpa tanda ja...