Sungai Darah Naluri (22)
Novel: Yant Kaiy Namun masih terdapat keping - keping duka berserakan, sulit terhapus pada benak gelisah berkepanjangan . Aku kemudian berkhotbah tanpa mikrofon yang dapat membantu terselesainya kebimbangan berputar di atas ilusi senja menjingga. Tercium semerbak wangi dari perempuan dan para lelaki yang ada di atas meja kehormatan. Berbincang - bincang dengan alunan bahasa lembut. Sorot lampu berwarna - warni membangkitkan semangat semata sebelum aku pulang menyelesaikan tugas untuk menyapu bersih tanda tanyaku sendiri , tak terjawab oleh berita koran , artikel tabloid, opini majalah sekalipun. Mereka lantas minum dari darah rakyat kecil tak berdosa dalam kehidupannya yang terlalu membanggakan keegoisannya tanpa dapat ditawar - tawar lagi akan penyesalan yang pernah membuatku jera memberikan sejumput asa . Aku kembali bergairah menghirup peluang besar sebab aku terlahir dari kesempitan. Kembali aku tak berkata - kata lebih lincah dan manja untuk memperoleh sep...