Ikhlas
Cerpen:
Yant Kaiy
Di suatu pagi di
pesisir pantai, seorang nenek tua sedang menjajakan dagangan ikannya. Ia tampak
sibuk melayani pembeli yang banyak. Dalam waktu sekejap ikan nenek ludes
terjual. Dua orang pemuda yang mengenakan baju koko dengan kopyah haji
mendekatinya. Nenek yang sudah beres-beres hendak pulang itu terhenti sejenak.
“Mau beli ikan, Nak?”
Kedua pemuda ini
tersenyum.
“Kalian kurang pagi.
Ikannya sudah habis,” terang nenek tanpa basa-basi. “Silakan beli ke pedagang
yang lain.”
“Saya penasaran sama
sampeyan, Nek,” ujar salah seorang diantara mereka. “Yang lain ikannya masih
ada, tapi ikan punya sampeyan telah habis duluan. Padahal harganya sama dengan
yang lain.”
“Mungkin ini rejeki
saya,” sahut nenek yang rambutnya beruban.
Suatu ketika, di hari
yang lain, kedua pemuda itu yang tak lain merupakan ustadz datang hendak
membeli ikan kepada nenek tersebut. Kali ini ikan nenek masih banyak. Sedangkan
pedagang ikan yang lain sudah pada pulang.
“Mau beli ikan, Nak?”
sambut nenek dengan senyum.
“Kok masih banyak,
Nek?”
“Entahlah. Sudah
seminggu lebih dagangan nenek tidak laku dan selalu dibawa pulang,” sahutnya
datar tidak bernada penyesalan.
“Tapi seminggu yang
lalu laris banget,” ujar salah seorang pemuda itu sembari mengeluarkan uang.
“Sebelumnya gimana?”
“Sama. Hanya ketika
waktu itu yang paling laris.”
“Berarti lebih banyak
ruginya, dong.”
“Tidak juga. Saya menabung untuk akhirat.”
Kedua ustadz itu
terkejut demi mendengar pernyataan sang nenek. Sebuah pernyataan yang sangat
dalam. Mereka tidak percaya kalau kalimat itu bisa meluncur dari bibir
perempuan yang berpenampilan sederhana dan terkesan kumuh tersebut.
“Berarti Nenek rajin
bersedekah?” kejar ustadz satunya yang sedari tadi tidak angkat bicara.
“Tidak,” pintas nenek
datar dan apa adanya.
Kedua ustadz itu saling
berpandangan. Menurut mereka ucapan nenek itu membingungkan.
“Saya setiap pagi
sehabis shalat subuh selalu memohon kepada Allah agar dagangan ikan saya laris,
dan saya mendapatkan keuntungan uang yang banyak. Saya juga mengamalkan
shalawat pada Kanjeng Nabi Mohammad SAW. Kalaupun saya tidak mendapatkan
keuntungan uang yang banyak, berarti Allah akan memberikan keuntungan itu di
akhirat kelak,” ujar nenek polos tanpa
terkesan menggurui.
“Amalan shalawatnya
gimana, Nek?”
“Sallallahu ala
Muhammad,” ujar sang nenek sembari melayani pembeli yang tiba-tiba banyak. Ia
lalu sibuk membungkus ikan.
“Nah, itu dia.
Shalawatnya kurang lengkap,” pintas sang ustadz seraya membacakan shalawat yang
agak panjang.
Kemudian kedua ustadz
itu berlalu karena takut ketinggalan perahu yang akan membawanya ke sebuah
pulau. Sampai di tengah laut, para penumpang perahu berteriak keheranan demi
mengetahui seorang nenek penjual ikan itu mengejarnya.
“Ustadz… ustadz…”
“Ya, ada apa, Nek?”
tanya kedua ustadz takjub. Kedua ustadz dan penumpang perahu itu memperhatikan
kaki nenek yang tidak tenggelam ke air laut.
“Saya lupa dengan
shalawat yang diajarkan sampeyan tadi.”
“Subhanallah. Teruskan
amalan shalawat Nenek itu. Panjenengan pulang sekarang!” pinta kedua ustadz itu
yang tetap tidak habis pikir demi melihat yang tidak masuk akal.
Pasongsongan. 16/10/2019